KONSEP PENGEMBANGAN KURIKULUM

A. Konsep Kurikulum
Kurikulum berasal dari bahasa Latin yakni “Curiculle” yang artinya jarak yang harus ditempuh seorang pelari.Pada waktu itu pengertian kurikulum ialah jangka waktu pendidikan yang harus dtempuh oleh seorang siswa bertujuan untuk memperoleh ijazah. Jarak yang harus ditempuh tersebut kemudian diubah menjadi program sekolah dan semua orang yang terlibat di dalamnya.
Pengertian kurikulum sangat bervariasi, dari yang sangat disederhanakan sampai yang sangat mencakup. Pengertian yang sangat disederhanakan misalnya mengatakan bahwa kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang diikuti peserta didik, sedangkan pengertian yang sangat mencakup mengatakan bahwa kurikulum adalah apa yang dialami seorang ditempat belajar. Sementara UU No. 20 Tahun 2003 menyebutkan kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Kurikulum dapat dilihat dari tiga dimensi, sebagai ilmu, sebagai sistem, dan sebagai rencana. Dalam kurikulum sebagai ilmu dikaji konsep, asumsi, teori-teori, prinsip-prinsip dasar tentang kurikulum. Dalam kurikulum sebagai sistem dijelaskan kedudukan kurikulum dalam hubungannya dengan sistem-sistem yang lain, komponen-komponen kurikulum, kurikulum sebagai jalur, jenjang, jenis pendidikan, manajemen kurikulum, dsb. Dalam kurikulum sebagai rencana dibahas macam-macam rencana dan rancangan atau desain kurikulum. Dalam rencana ada yang bersifat menyeluruh untuk semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan atau khuhus untuk jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. Demikian juga dengan rancangan atau desain, ada desain berdasarkan konsep, tujuan, isi, proses, masalah, kebutuhan siswa, dll.
Kurikulum sebenarnya bukanlah merupakan faktor pendidikan yang terpisah dari dinamikan dan tuntutan masyarakat. Muara dari kurikulum adalah masyarakat sebagai pengguna jasa pendidikan. Kurikulum pada intinya merupakan formula yang menjembatani siswa dari keadaan tidak mengetahui menjadi mengetahui dan dapat memberikan kontribusi secara positif terhadap perkembangan masyarakat. Proses pendidikan tidak hanya sekedar mempersiapkan anak bangsa untuk mampu hidup dalam masyarakat kini, tetapi mereka juga harus dipersiapkan untuk hidup di masyarakat yang akan datang yang semakin lama semakin sulit diprediksi karakteristiknya.
Kita dapat menyepakati bahwa kurikulum memang diperlukan dalam sistem persekolahan yang modern, dalam arti bahwa setiap guru memerlukan panduan untuk dijadikan pegangan sehari-hari dalam kaitan kelembagaan, regional, maupun nasional. Kurikulum pendidikan dasar yang berkenaan dengan sekolah dasar menekankan kemampuan dan keterampilan dasar, yaitu “baca, tulis, dan hitung” (calistung) sebagaimana tercermin dalam kemampuan dan keterampilan penggunaan bahwa (baca, tulis, dan bicara) serta berhitung (menambah, mengurang, membagi, mengali, mengukur sederhana, dan memahami bentuk geometri) yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan dasar bertujuan memberikan bekal kemampuan dasar pada siswa untuk mengembangkan kehidupan sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara, dan anggota umat manusia serta mempersiapkan siswa untuk mengikutipendidikan menengah.
Kurikulum pendidikan dasar merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar di SD. Isi kurikulum pendidikan dasar wajib memuat sekurang-kurangnya bahan kajian dan pelajaran tentang pendidikan Pancasila, pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, bahasa Indonesia, membaca dan menulis, matematika termasuk berhitung pengantar sains dan teknologi, ilmu bumi, sejarah nasional dan sejarah umum, kerajinan tangan dan kesenian, pendidikan jasmani dan kesehatan, menggambar serta bahasa Inggris.

B. Fungsi Kurikulum
Dalam proses belajar kurikulum memegang peranan yang sangat penting, karena dengan kurikulum peserta didik sebagai individu yang berkembang akan memperoleh manfaat. Banyak pihak-pihak yang dapat mengambil manfaat dari sebuah kurikulun, baik bagi peserta didik itu sendiri, sekolah yang bersangkutan, sekolah pada tingkatan di atasnya, guru, orang tua peserta didik, maupun bagi masyarakat.Manfaat yang dapat mereka ambil dari suatu kurikulum berbeda satu dengan yang lainnya, sebab kurikulum memiliki manfaat tersendiri dari tiap dimensi.Hal inilah yang menunjukkan keluasan dari fungsi kurikulum yang tidak hanya dapat diambil oleh pihak-pihak yang terkait dengan dunia sekolah saja.Namun juga dapat bermanfaat bagi pihak-pihak di luar dunia sekolah.
Fungsi kurikulum difokuskan pada tiga aspek berikut :
1. Fungsi kurikulum bagi sekolah yang bersangkutan, yaitu sebagai alat untuk mencapai seperangkat tujuan pendidikan yang diinginkan dan sebagai pedoman dalam mengatur kegiatan sehari-hari.
2. Fungsi kurikulum bagi tataran tingkat sekolah, yaitu sebagai pemeliharaan proses pendidikan dan penyiapan tenaga kerja.
3. Fungsi bagi konsumen, yaitu sebagai keikut sertaan dalam memperlancar pelaksanaan program pendidikan dan kritik yang membangun dalam penyempurnaan program yang serasi.
Setiap lembaga pendidikan, baik formal maupun nonformal dalam penyelenggaraan kegiatan sehari-harinya berlandaskan kurikulum. Kurikulum itu sendiri dalam hal ini dapat berupa:
a. Rancangan Kurikulum, yaitu buku kurikulum suatu lembaga pendidikan.
b. Pelaksanaan kurikulum, yaitu suatu proses pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan.
c. Evaluasi kurikulum, yaitu penilaian atau penelitian hasil-hasil pendidikan.
Dalam lingkup pendidikan formal, kegiatan merancang, melaksanakan, dan menilai kurikulum tersebut, yaitu yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan, dilaksanakan sebagai program pengajaran.
Menurut Winarno Surahmad yang dikutib oleh Ahmad.Berbicara masalah fungsi kurikulum, kita dapat meninjau dari tiga segi, yaitu bagi sekolah yang bersangkutan, fungsi bagi sekolah pada tingkat di atasnya, dan fungsi bagi masyarakat.
a. Fungsi bagi Sekolah yang Bersangkutan
Fungsi kurikulum bagi sekolah yang bersangkutan ini terdiri atas dua macam.
Pertama, sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan. Manifestasi kurikulum dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah berupa program pengajaran. Program pengajaran itu sendiri merupakan suatu system yang terdiri atas berbagai komponen yang kesemuanya dimaksudkan sebagai upaya untuk mencapai tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan yang akan dicapai tersebut disusun secara berjenjang mulai dari pendidikan yang bersifat nasioanl sampai tujuan instruksional, jika tujuan instruktusional tercapai (hasilnya langsung dapat diukur melalui kegiatan belajar-mengajar di kelas) pada gilirannya akan tercapai pula tujuan-tujuan pada jenjang di atasnya. Setiap kurikulum sekolah di dalamnya tercantum tujuan-tujuan pendidikan yang akan atau harus dicapai melalui kegiatan pengajaran.
Kedua, kurikulum dijadikan untuk mengatur kegiatan-kegiatan pendidikan yang dilaksanakan di sekolah. Dalam pelaksanaan pengajaran misalnya, telah ditentukan macam-macam bidang studi, alokasi waktu, pokok bahasan atau materi pelajaran untuk tiap semester, sumber bahan, metode atau bahan pengajaran, alat dan media pengajaran yang diperlukan. Di samping itu, kurikum juga mengatur hal-hal yang berhubungan dengan jenis program, cara penyelenggaraan, strategi pelaksanaan., penanggung jawab, sarana dan prasaran dan sebagainya.

b. Fungsi bagi Sekolah Tingkat di atasnya
Kurikulum dapat berfungsi sebagi pengontrol atau pemelihara kesimbangan proses pendidikan. Dengan mengetahui kurikulum sekolah pada tingkat tertentu, maka kurikulum pada tingkat di atasnya dapat mengadakan penyesuaian. Misalnya, jika suatu bidang studi telah diberikan pada kurikulum sekolah di tingkat bawahnya, harus diprtimbangkan lagi pemilihannya pada kurikulum sekolah tingkat di atasnya terutama dalam hal pemilihan bahan pengajaran. Penyesuaian bahan tersebut dimaksudkan untuk menghindari keterulangan penyampaian yang bisa berakibat pemborosan waktu, dan yang lebih penting lagi adalah untuk menjaga kesinambungan bahan pengajaran itu.
Di samping itu, terdapat juga kurikulum yang berfungsi untuk menyiapakan tenaga pengajar. Bila suatu sekolah atau lembaga pendidikan menyiapakan tenaga pengajar. Bila suatu sekolah atau lembaga pendidikan bertujuan menghasilkan tenaga guru (LPTK), maka lembaga tersebut harus mengetahui kurikulum sekolah pada tingkat di bawahnya tempat calon guru yang dipersiapkan itu akan mengajar. Misalnya, murid SPG harus mengetahui kurikulum SD, mahasiswa IKIP/FKG harus menguasai kurikulum SLTP dan SMU. Jika kegiatan pengajaran di SD, SLTP dan SMU disampaikan dengan system PPSI, maka sekolah-sekolahg yang bertugas mengadakan guru untuk sekolah-sekolah tersebut harus membekali calon-calon guru dengan kemampuan membuat PPSI.

c. Fungsi bagi Masyarakat
Pada umumnya sekolah dipersiapakan untuk terjun di masyarakat atau tegasnya untuk bekerja sesuai dengan ketrampilan profesi yang dimilikinya. Oleh karena itu, kurikulum sekolah haruslah mengetahui atau mencerminkan hal-hal yang menjadi kebutuhan masyarakat atau para pemakai tamatan sekolah. Untuk keperluan itu perlu perlu kerja sama antara pihak sekolah dengan pihak luar dalam hal pembenahan kurikulum yang diharapkan. Dengan demikian, masyarakat atau para pemakai lulusan seolah dpatr memberikan bantuan, kritik atau saran-saran yang berguna bagi penyempurnaan program pendidikan sekolah.
Dewasa ini kesesuaian antar program kurikulum dengan kebutuhan masyarakat (baca: lapangan pekerjaan), haus benar-benar diusahakan. Hal itu mengingat seringnya terjadi terjadi kenyataan bahwa lulusan sekolah belum siap pakai atau tidak sesuai dengan tenaga yang dibutuhkan dalam lapangan pekerjaan.Akibatnya walaupun semakin menumpuk tenaga kerja yang ada, kita dapat mengisi lapangan pekerjaan yang tersedia Karen ketrampilan yang dimilikinnya tak sesuai dengan yang dibutuhkan dalam lapangan pekerjaan.Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, ada seorang tokoh pendidikan yang mengemukakan agar pada sekolah tingkat SD sudah dibuat menjadi dua jalur, yaitu jalur vokasional (dipersiapkan untuk segera bekerja).Hal itu berdasarkan kenyataan penelitian bhwa masih ada sebagaian besar anak tamatan SD yang tidak meneruskan pendidikan ke tingkat di atasnya.
Dilihat dari sisi pengembangan kurikulum (guru), kurikulum mempunyai fungsi sebagai berikut: (a) Fungsi preventif, yaitu mencegah kesalahan para pengembang kurikulum terutama dalam melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan rencana kurikulum, (b) fungsi korektif, yaitu mengoreksi dan membetulkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh pengembang kurikulum dalam melaksanakan kurikulum, dan (c) fungsi konstruktif, yaitu memberikan arah yang jelas bagi para pelaksana dan pengembang kurikulum untuk membangun kurikulum yang lebih baik lagi pada masa yang akan datang. Menurut Hilda Taba yang dikutib oleh Zainal Arifin mengemukakan terdapat tiga fungsi kurikulum, yaitu (a) sebagai transmisi, yaitu mewariskan nilai-nilai kebudayaan, (b) sebagai transformasi, yaitu melakukan perubahan atau rekonstruksi sosial, dan (c) sebagai pengembangan individu.
Dilihat dari sisi peserta didik, Alexander Inglis dalam bukunya Principle of secondary Education mengemukakan beberapa fungsi kurikulum, sebagai berikut (a) fungsi penyesuaian (the adjustive or adaptive function), yaitu membantu peserta didik untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya secara menyeluruh; (b) fungsi pengintegrasian (the integrating function), yaitu membentuk pribadi-pribadi yang terintegrasi sehingga mampu bermasyarakat; (c) fungsi perbedaan (the differentiatingfunction), yaitu membantu memberikan pelayanan terhadap perbedaan-perbedan individual dalam masyarakat; (d) fungsi persiapan (the propaedeutic function), yaitu mempersiapakan peserta didik untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi; (e) fungsi pemilihan (the selective function), yaitu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memilih program-program pembelajaran secara selektif sesuai dengan kemampuan, minat dan kebutuhanya; dan (f) fungsi diagnostik (the diagnosticfunction), yaitu membantu peserta didik untuk memahami dirinya sehingga dapat mengembangkan semua potensi yang dimilikinya.
Berbagai fungsi kurikulum dilaksanakan oleh kurikulum secara keseliruhan.Fungsi-fungsi tersebut memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan siswa sejalan dengan arah filsafat pendidikan Dan tujuan pendidikan yang diharapkan oleh institusi pendidikan yang bersangkutan.
Fungsi kurikulum dapat juga ditinjau dalam berbagai prespektif, antara lain sebagai berikut.
1. Fungsi Kurikulum dalam Mencapai Tujuan Pendidikan
Fungsi kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan, yaitu alat untuk membentuk manusia seutuhnya sesuai dengan visi, misi, dan tujuan pendidikan nasioal, termasuk berbagai tingkatan tujuan pendidikan yang ada di bawahnya. Kurikulum sebagai alat dapat diwujudkan dalam bentuk program, yaitu kegiatan dan pengalaman belajar yang harus dilaksanakan oleh guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran.

2. Fungsi kurikulum bagi kepala sekolah merupakan pedoman untuk mengatur dan membimbing kegiatan sehari-hari di sekolah, baik kegiatan intrakulikuler, ekstrakulikuler maupun kokurikuler. Pengaturan kegiatan ini penting agar tidak terjadi tumpang tindih, seperti jenis program pendidikan apa yang sedang dan akan dilaksanakan, bagaimana prosedur pelaksanaan program pendidikan, siapa orang yang bertanggung jawab dan melaksanakan program pendidikan, kapan dan di mana program pendidikan akan dilaksanakan. Bagi kepala sekolah, kurikulum merupakan barometer keberhasilan program pendidikan di sekolah yang dipimpinnya.

3. Fungsi Kurikulum bagi Setiap Jenjang Pendidikan
(a) Fungsi kesinambungan, yaitu sekolah pada tingkat yang lebih atas harus mengetahui dan memahami kurikulum sekolah yang dibawahnya, sehingga dapat dilakukan penyesuaian kurikulum, (b) fungsi penyiapan tenaga, yaitu bilamana sekolah tertentu diberi wewenang memepersiapkan tenaga-tenaga terampil, maka sekolah tersebut perlu mempelajari apa yang diperlukan oleh tenaga terampil, maka sekolah tersebut perlu mempelajari apa yang diperlukan oleh tenaga terampil, baik mengenai kemampuan akademik, kecakapan atau ketrampilan, kepribadian maupun hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sosial.

4. Fungsi Kurikulum bagi Guru
Dalam praktik, guru merupakan ujung tombak pengembangan kurikulum sekaligus sebagai pelaksana kurikulum di lapangan. Bagaimanapun baiknya suatu kurikulum disusun, pada akhirnya akan sangat bergantung pada kemampuan guru di lapangan. Guru harus memiliki kompetensi professional, kompetensi pedagogik, kompetensi personal, dan kemampuan sosial secara seimbang dan terpadu. Bagi guru, memahami kurikulum merupakan suatu hal yang mutlak dan harga mati.Segala sesuatu yang dikerjakan oleh guru dan disampaikan kepada peserta didik harus sesuai dengan tuntutan kurikulum yang berlaku.

5. Fungsi Kurikulum bagi Pengawas (Supervisor)
Bagi para pengawas, fungsi kurikulum dapat dijadikan sebagai pedoman, patokan, atau ukuran dalam membimbing kegiata guru di sekolah. Kurikulum dapat digunakan pengawas untuk menetapkan hal-hal apa saja yang memerlukan penyempurnaan atau perbaikan dalam usaha pengembangan kurikulum dan peningktan mutu pendidikan. Para pengawas harus bersikap dan bertindak secara professional dalam membimbing kegiatan guru di sekolah.

6. Fungsi Kurikulum bagi Masyarakat
Bagi masyarakat, kurikulum dapat memberikan pencerahan dan perluasan wawasan pengetahuan dalam berbagai bidang kehidupan.Melalui kurikulum, masyarakat dapat mengetahui apakah pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang dibutuhkannya relevan atau tidak dengan kurikulum suatu sekolah. Masyarakat yang cerdas dan dinamis akan selalu (a) memberikan bantuan, baik moril maupun materil dalam pelaksanaan kurikulum suatu sekolah, (b) memberikan saran-saran, usul atau pendapat sesuai dengan keperluan-keperluan yang paling mendesak untuk dipertimbangkan dalam kurikulum sekolah, dan (c) berperan serta secara aktif, baik langsung maupun tidak langsung. Orang tua juga perlu memahami kurikulum dengan baik, sehingga dapat memberikan bantuan kepada putra-putrinya.Fungsi kurikulum bagi orang tua dapat dijadikan bahan untuk memberikan bantuan, bimbingan, dan fasilitas lainnya guna mencapai hasil belajar yang lebih optimal.Bantuan dan bimbingan yang tidak didasarkan atas kurikulum yang berlaku, dapat merugikan anak, sekolah, masyarakat dan orang tua itu sendiri.

7. Fungsi Kurikulum bagi pemakai Lulusan
Instansi atau perusahaan manapun yang mempergunakan tenaga kerja lulusan suatu lembaga pendidikan tentu menginginkan tenaga kerja yang bermutu tinggi dan mampu berkompetisi agar dapat meningkatkan produktifitasnya.Biasanya, para pemakai lulusan selalu melakukan seleksiyang ketat dalam penerimaan calon tenaga kerja. Seleksi dalam bentuk apa pun tidak akan membawa arti apa-apa jika instansi tersebut tidak mempelajari terlebih dahulu kurikulum yang telah ditempuh oleh para calon tenaga kerja tersebut. Bagaimanapun, kadar pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang dimiliki calon tenaga kerja, merupakan produk dari kurikulum yang ditempuhnya. Para pemakai lulusan harus mengenal kurikulum yang telah ditempuh calon tenaga kerja. Studi kurikulum akan banyak membantu pemakai lulusan dalam menyeleksi calon tenaga kerja yang handal, enerjik, disiplin, bertanggung jawab, jujur, ulet, tepat dan kualitas.

8. Fungsi kurikulum bagi orang tua siswa
Kurikulum memiliki fungsi yang amat besar bagi orang tua mereka dapat berperan serta dalam membantuh sekolah melakukan pembinaan terhadap putra putri mereka.Dengan mengacuh pada kurikulum sekolah di mana anak-anak mereka di bina, maka orang tua dapat memantau perkembangan informasi yang di serap anak mereka.
Fungsi Kurikulum Secara Umum Dan Khusus
Fungsi kurikulum dibagi menjadi dua yaitu fungsi umum dan fungsi khusus.
a. Fungsi umum kurikulum
Kurikulum berfungsi sebagai penyedia dan pengembang individu peserta didik.
b. Fungsi khusus kurikulum
a) Fungsi preventif. Dimaksudkan agar guru terhindar dari melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan yang ditetapkan dalam kurikulum.
b) Fungsi korektif. Sebagai rambu-rambu yang harus dipedomani dalam membetulkan pelaksanaan yang menyimpang dari kurikulum.
c) Fungsi konstruktif. Memberikan arah yang benar bagi pelaksanaan dan mengembangkan pelaksanaannya, asalkan arah pengembangannya mengacu pada kurikulum yang berlaku.

C. Kedudukan Kurikulum dalam Pendidikan
Pendidikan adalah investasi sumber daya manusia penerus generasi untuk meningkatkan taraf hidup suatu bangsa. Karena arah pendidikan untuk mewujudkan kompetensi manusia yang manusiawi dan professional dibidangnya seiring kemajuan ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi. Pendidikan adalah upaya untuk mempersiapkan peserta didik agar mampu hidup dengan baik dalam masyarakatnya, mampu meningkatkan dan mengembangkan kualitas hidupnya sendiri, serta berkontribusi secara bermakna dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan bangsanya.
Tujuan pendidikan, antara lain agar peserta didik mampu terjun kemasyarakat, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dan memiliki kepribadian yang baik. Selain itu juga untuk meningkatkan pengetahuan siswa untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi dan mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian. Sedangkan tujuan pendidikan nasional menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tujuan pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang MahaEsa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, danmenjadiwarga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka diperlukannya suatu alat yang disebut dengan kurikulum. Kurikulum adalah sesuatu yang direncanakan sebagai pegangan guna mencapai tujuan pendidikan. Pendidikan berintikan interaksi antara pendidik dengan peserta didik dalam upaya membantu peserta didik menguasai tujuan-tujuan pendidikan. Kegiatan pendidikan berintikan interaksi antara peserta didik dengan pendidik yang berlangsung dalam suatu lingkungan pendidikan. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan. Interaksi pendidikan dapat berlangsung dalam lingkungan keluarga, sekolah, ataupun masyarakat.
Lingkungan keluarga merupakan lembaga pendidikan tertua, pertama, dan utama dialami oleh anak karena bersifat kodrati bagi orangtua bertanggung jawab memelihara, merawat, melindungi, dan mendidik anak. Dalam lingkungan keluarga, interaksi pendidikan terjadi antara orangtua sebagai pendidik dan anak sebagai peserta didik. Interaksi ini berjalan tanpa rencana tertulis. Orangtua sering tidak mempunyai rencana yang jelas dan rinci ke mana anaknya akan diarahkan, dengan cara apa mereka akan dididik, dan apa isi pendidikannya. Karena sifat-sifatnya yang tidak formal, tidak memiliki rencana yang nyata, danada kalanya juga tidak disadari, maka pendidikan dalam lingkungan keluarga disebut pendidikan informal.
Tidak semua tugas mendidik dapat dilaksanakan oleh orangtua dalam keluarga. Oleh karena itu dikirimlah anak ke sekolah. Sekolah bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak selama mereka diserahkan kepadanya. Pendidikan dalam lingkungan sekolah lebih bersifat formal. Guru sebagai pendidik di sekolah telah dipersiapkan secara formal dalam lembaga pendidikan guru. Ia telah mempelajari ilmu, keterampilan, dan seni sebagai guru. Mereka juga telah diangkat dan diberi kepercayaan oleh masyarakat untuk menjadi guru. Mereka mengajar dengan tujuan yang jelas, bahan-bahan yang telah dipilih dan dirancang secara cermat berdasarkan kurikulum formal yang bersifat tertulis. Sejarah pendirian sekolah diawali kerena ketidakmampuan keluarga memberikan pengetahuan dan keterampilan yang lebih tinggi dan mendalam.
Dalam lingkungan masyarakat pun terjadi berbagai bentuk interaksi pendidikan dari yang mirip pendidikan formal di sekolah seperti kursus-kursus sampai dengan yang kurang formal seperti ceramah, sarasehan, dan pergaulan kerja. Gurunya pun bervariasi ada yang berlatar belakang pendidikan sebagai guruada juga yang berdasarkan pengalaman. Kurikulumnya pun juga bervariasi, ada yang memiliki kurikulum formal dan tertulis sampai dengan rencana pelajaran yang hanya ada pada pikiran pencermah atau moderatior sarasehan, atau gagasan keteladanan yang ada pada pemimpin.
Dari hal-hal yang diuraikan itu, dapat ditarik beberapa kesimpulan berkenaan dengan pendidikan formal. Pertama, pendidikan formal memiliki rancangan pendidikan atau kurikulum tertulis yang tersusun secara sistematis, jelas, dan rinci. Kedua, dilaksanakan secara formal, terencana, ada yang mengawasi, dan menilai. Ketiga, diberikan oleh pendidik atau guru yang memiliki ilmu keterampilan khusus dalam bidang pendidikan. Keempat, interaksi pendidikan berlangsung dalam lingkungan tertentu, dengan fasilitas dan alat serta aturan-aturan permainan tertentu pula.
Pendidikan formal memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan pendidikan informal dalam lingkungan keluarga. Pertama, pendidikan formal di sekolah memiliki lingkup isi pendidikan yang lebih luas, bukan hanya berkenaan dengan pembinaan segi-segi moral tetapi juga ilmu pengetahuan dan keterampilan. Kedua, pendidikan di sekolah dapat memberikan pengetahuan yang lebih tinggi, lebih luas, dan mendalam. Ketiga, karena memiliki rancangan atau kurikulum secara formal dan tertulis, pendidikan di sekolah dilaksanakan secara berencana, sistematis, dan lebih disadari.
Kurikulum merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan pendidikan, sekaligus merupakan pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran pada semua jenis dan jenjang pendidikan. Kurikulum memegang kedudukan kunci pendidikan, sebab berkaitan dengan penentuan arah, isi, dan proses pendidikan, yang pada akhirnya menentukan macam dan kualifikasi lulusan suatu lembaga pendidikan. Kurikulum menyangkut rencana dan pelaksanaan pendidikan baik dalam lingkup kelas, sekolah, daerah, wilayah maupun nasional. Kurikulum merupakan syarat mutlak bagi pendidikan di sekolah karena merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pendidikan atau pengajaran. Akan tetapi kurikulum tersebut sifatnya dinamis, selalu mengalami perubahan guna (menyesuaikan dengan kebutuhan peserta didik, tuntutan masyarakat, dan perkembangan ilmu dan teknologi).
Untuk mencapai visi, misi, dan tujuan pendidikan nasional harus ada suatu alat yang disebut dengan kurikulum. Tujuan, bahan ajar, metode-alat, dan penilaian merupakan empat komponen-komponen utama dalam kurikulum.Setiap praktik pendidikan diarahkan pada pencapaian tujuan-tujuan tertentu, apakah berkenaan dengan penguasaan pengetahuan, pengembangan pribadi, kemampuan sosial, ataupun kemampuan bekerja. Untuk menyampaikan bahan pelajaran, ataupun mengembangkan kemampuan-kemampuan tersebut diperlukan metode penyampaian serta alat-alat bantu tertentu. Untuk menilai hasil dan proses pendidikan, juga diperlukan cara-cara dan alat-alat penilaian tertentu pula.
Kedudukan kurikulum dapat juga dilihat dari sistem pendidikannya, pendidikan sebagai sistem tentu memiliki berbagai komponen yang saling berhubungan dan saling ketergantungan. Komponen-komponen pendidikan itu, antara lain tujuan pendidikan, kurikulum pendidik, peserta didik, lingkungan, sarana dan prasarana, manajemen, dan teknologi. Berdasarkan komponen-komponen ini, jelas bahwa kurikulum mempunyai kedudukan tersendiri dalam sistem pendidikan nasional, maka ada beberapa keterlibatan terhadap hakikat dan pengembangan kurikulum, yaitu:
1. Kurikulum harus disusun sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan masyarakat, berakar pada kebudayaan dan kepribadian bangsa serta diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
2. Kurikulum untuk semua jenis dan jenjang pendidikan harus dikembangkan secara berkesinambungan dan fungsional terhadap perkembangan peserta didik dan masyarakat.
3. Sesuai dengan prinsip persamaan dan perbedaan individual, dikaitkan pula dengan fungsi sekolah sebagai wadah pewarisan pesan-pesan bangsa dan negara, maka dalam kurikulum perlu dibedakan antara program inti dengan program pilihan sesuai dengan bakat minat dan pertimbangan-pertimbangan lain yang relevan.
4. Struktur materi dan proses pembelajaran harus dirancang dengan sebaik-baiknya dan diarahkan untuk mencapai keseimbangan antara perkembangan perilaku kognitif, afektif, dan psikomotor pada diri peserta didik.
5. Kurikulum tidak hanya ditujukan untuk membentuk kemampuan akademik dan nilai-nilai pribadi, tetapi juga untuk menumbuhkan kemampuan belajar untuk belajar dan mengembangkan diri sendiri.
Sekolah sebagai pranata (sistem tingkah laku sosial yang bersifat resmi serta adat-istiadat dan norma yang mengatur tingkah laku dan seluruh perlengkapannya guna memenuhi berbagai kompleks kebutuhan manusia di masyarakat) sosial harus dapat mempengaruhi dan membimbing tingkah laku peserta didik sesuai visi, misi, dan tujuan pendidikan nasional. Untuk itu kurikulum harus dapat mengembangkan semua potensi yang dimiliki peserta didik melalui berbagai kegiatan dan pengalaman belajar yang kreatif, efektif, dan kondusif. Kurikulum harus dapat merangsang pola berpikir dan pola bertindak peserta didik untuk menciptakan sesuatu yang baru sehingga bermanfaat bagi dirinya, keluarga, bangsa, dan negara.
D. Langkah-Langkah Pengembangan Kurikulum
Pengembangan kurikulum adalah fungsi penting dari kepemimpinan sekolah. Apakah peran ini dilakukan oleh kepala sekolah, asisten utama untuk kurikulum, seorang pemimpin tim, kepala departemen, atau dengan guru kelas terkemuka. Pengembangan kurikulum pada umumnya terdiri dari beberapa tingkat, yaitu pengembangan kurikulum tingkat Nasional, pengembangan kurikulum tingkat lembaga, pengembangan kurikulum tingkat bidang studi (penyusunan silabus), pengembangan kurikulum tingkat satuan bahasan (modul).
Dalam rangka mempersiapkan lulusan pendidikan memasuki era globalisasi yang penuh tantangan dan ketidakpastian, diperlukan pendidikan yang direncang berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan. Untuk kepentingan tersebut pemerintah memprogramkan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) sebagai acuan dan pedoman bagi pelaksanaan pendidikan untuk mengembangkan berbagai ranah pendidikan (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) dalam seluruh jenjang dan jalur pendidikan, khususnya pada jalur pendidikan sekolah.
Dalam pembelajaran, kompetensi merupakan serangkaian kemampuan dasar serta sikap dan nilai penting yang dimiliki peserta didik setelah dididik dan dilatih melalui pengalaman belajar yang dilakukan secara berharap dan berkesinambungan. Kompetensi bersifat individual, kontekstual, dinamis, aktual, dan berkembang secara berkelanjutan sejalan dengan tingkat perkembangan peserta didik serta perkembangan yang terjadi dalam berbagai segi kehidupan secara keseluruhan.
Agar kurikulum yang telah dirancang dan dikembangkan dapat menjadi serangkaian pengalaman pembelajaran yang relevan, masih perlu dikembangkan lebih lanjut program pembelajaran. Kegiatan ini dilakukan oleh penanggung jawab bidang studi, baik guru, dosen, dan widyaiswara perlu menjadi tenaga pendidik yang benar-benar menguasai bidang studi yang menjadi tanggungjawabnya, karakter peserta didik atau mahasiswa atau peserta latihan, berbagai model pembelajaran, teknologi pendidikan, dan sistem evaluasi. Kelima jenis pengetahuan tersebut perlu dikuasai oleh penanggung jawab suatu bidang studi agar dapat mengembangkan program pembelajaran yang relevan dengan tujuan yang pencapaiannya dibebankan pada bidang studi tersebut.
Penyusunan dan pengembangan kurikulum dapat menempuh langkah-langkah:
1. Perumusan tujuan. Tujuan di rumuskan berdasarkan analisis terhadap berbagai kebutuhan, tuntutan dan harapan. Oleh karena itu tujuan di rumuskan dengan mempertimbangkan faktor-faktor masyarakat, siswa itu sendiri, serta ilmu pengetahuan.
2. Menentukan isi. Isi kurikulum merupakan pengalaman belajar yang di rencanakan akan di peroleh siswa selama mengikuti pendidikan. Pengalaman belajar ini dapat berupa mempelajari mata pelajaran-mata pelajaran, atau jenis-jenis pengalaman belajar lain sesuai dengan bentuk kurikulum itu sendiri.
3. Memilih kegiatan. Organisasi dapat dirumuskan sesuai dengan tujaun dan pengalaman-pengalaman belajar yang menjadi isi kurikulum, dengan mempertimbangkan bentuk kurikulum yang digunakan.
4. Merumuskan evaluasi. Evaluasi kurikulum mengacu pada tujuan kurikulum, sebagai di jelaskan di muka. Evaluasi perlu di lakukan untuk memperoleh balikan sebagai dasar dalam melakukan perbaikan, oleh karena itu evaluasi dapat di lakukan secara terus menerus.

Kegiatan pengembangan kurikulum itu harus dimulai dari perencanaa. Dalam menyusun perencanaan tersebut didahului oleh ide-ide yang akan dituangkan dan dikembangkan dalam program. Ide-ide tersebut berkenaan dengan penentuan filosofi kurikulum, model kurikulum yang digunakan, pendekatan dan teori belajar yang digunakan dan model evaluasi pembelajaran yang dipilih. Ide-ide tersebut dapat berasal dari:
1. Visi yang dicanangkan. Visi (vision) adalah pernyataan tentang cita-cita atau harapan-harapan yang ingin dicapai oleh suatu lembaga pendidikan dalam jangka panjang (the statement of ideas or hopes).
2. Kebutuhan siswa, masyarakat, pengguna lulusan (stakeholders), dan kebutuhan untuk studi lanjut.
3. Hasil evaluasi kurikulum sebelumnya dan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan jaman.
4. Pandangan-pandangan para ahli/pakar berbagai bidang.
5. Kecenderungan era globalisasi yang menuntut seseorang harus memiliki etos belajar sepanjang hayat, melek sosial, politik, ekonomi, budaya, dan teknologi.
Kelima hal diatas kemudian diramu sedemikian rupa untuk dikembangkan dalam program atau kurikulum sebagai dokumen yang antar lain berisi informasi dan jenis dokumen yang akan dihasilkan, bentuk atau format silabus dan komponen-komponen kurikulum yang harus dikembangkan. Segala sesuatu yang tertuang dalam dokumen tersebut kemudian dikembangkan dan disosialisasikan dalam proses implementasinya, yang bisa saja berupa pengembangan kurikulum dalam bentuk rencana pembelajaran, proses pembelajaran didalam/luar kelas serta evaluasi pembelajaran, sehingga akan diketahui tingkat efektivitas dan efisiensinya.
Sebagai sebuah perangkat, kurikulum memang tak terlepas dari dinamika yang terjadi. Oleh sebab itu maka evaluasi atas evektivitas sebuah kurikulum mutlak dilakukan. Evaluasi selain bertujuan untuk mengukur sampai sejauh mana kurikulum tersebut berdampak pada perubahan perilaku penggunanya, namun juga sampai sejauh mana kurikulum mampu menjawab tantangan jaman.
Pendekatan seseorang terhadap kurikulum akan merefleksikan pandangannya tentang dunia, termasuk di dalamnya pandangan tentang kenyataan, nilai, dan pengetahuan yang dianutnya. Pendekatan kurikulum juga menyatakan pandangan tentang pengembangan dan desain kurikulum, peranan guru, peserta didik dan ahli kurikulum dalam mmerencanakan kurikulum, tujuan kurikulum, dan issu-issu yang perlu dibahas. Pendekatan dalam pengembangan kurikulum mempunyai arti yang sangat luas. Hal tersebut bisa berarti penyusunan kurikulum baru, bisa juga penyempurnaan terhadapkurikulum yang sedang berlaku.

DAFTAR RUJUKAN

Ahmad dkk, 1998. Pengembangan Kurikulum. Bandung: Pustaka Setia.
Ali, Mohammad. 1992. Pengembangan Kurikulum di Sekolah. Bandung:Sinar Baru.
– – – – – -. 2009. Pendidikan Untuk Pembangunan Nasional. Jakarta: Grasindo.
Arifin, Zainal. 2012. Konsepdan Model Pengembangan Kurikulum. Bandung : Rosdakarya.
Budyartati, Sri. 2014. Problematika Pembelajaran di SD. Yogyakarta : Budi Utama.
Darmaningtyas. 2007. Pendidikan Rusak-Rusakan.Yogyakarta: Lkis.
Hamalik, Oemar. 2015. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung: Rosdakarya
Ketut Jelantik, A.A.. 2015. Menjadi Kepala Sekolah yang Profesional. Yogyakarta: deepublish.
Ladjid, Hafni. 2005. Pengembangan Kurikulum Menuju Kurikulum Berbasis Kompetensi. Ciputat: PT. Ciputat Press Group.
Ma’unah, Binti. 2005. Pendidikan Kurikulum SD-MI.Surabaya: eLKAF.
– – – – – -. 2009. LandasanPendidikan. Yogyakarta: Teras.
Mulyasa, E.. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Rosdakarya.
Nasution. 2011. Asas-asas Kurikulum. Jakarta: Bumi Aksara.
Prayitno.2009. DasarTeoridanPraksisPendidikan.Padang: Grasindo.
Suardi, Moh.. 2015. Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: deepublish.
Suparno, Paul. Dkk. 2010.ReformasiPendidikan.Yogyakarta :Kanisius.
Surakhmad, Winarno. 2009. Pendidikan Nasional Strategi dan Tragedi. Jakarta: Kompas.
Soedijarto. 2008. Landasan dan Arah Pendidikan Nasional kita. Jakarta: Kompas.
Syaodih Sukmadinata, Nana. 2006. Pengembang Kurikulum. Bandung :Rosdakarya.
Tim PengembangIlmuPendidikan FIP UPI. 2007. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan bagian 2. Bandung: Imtima.
Uzer, Usman Moh.. 2011. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Rosdakarya.
Zaini, Muhamad. 2009. Pengembangan Kurikulum. Yogyakarta: Teras.

 

 

 

 

Lapis Bentuk (Struktur), Lapis Makna, dan Ragam dalam Puisi

Lapis Bentuk (Struktur), Lapis Makna, dan Ragam dalam Puisi

Evita Nurfirdaus

e-mail : evitav44@gmail.com

Abstrak

Salah satu rahasia yang sesungguhnya tetap menjadi rahasia sepanjang masa adalah puisi. Bentuk paling tua dari kesusasteraan dalam sejarah peradaban manusia adalah puisi. Dan bentuk paling agung yang senantiasa diliputi kabut rahasia dalam kesusasteraan dunia adalah puisi. Puisi adalah sarana yang paling tepat untuk mengungkapkan rasa yang terlalu dalam untuk dijelaskan dengan kata-kata. Selain itu, puisi juga sangat berguna untuk melatih kalimat ekonomis, padat, tepat sasaran tetapi tetap indah. Demikian juga puisi telah melatih kita mmencari kata (diksi) yang tepat untuk mengungkapkan perasaan yang mendalam. Puisi bisa tumbuh subur ketika emosi kita telah bergejolak, misalnya karena terlibat asmara.

Berbagai cara digunakan orang untuk mengekspresikan hati dan keadaan diri mereka. Salah satunya lewat puisi. Puisi banyak digunakan untuk mengungkapkan suasana hati, gagasan maupun pemikiran seseorang. Namun tidak semua orang bisa mendalami dunia puisi sampai membawa mereka menjadi seorang penyair.

Kata Kunci : Lapis bentuk atau strukur puisi, Lapis makna dalam puisi, dan Ragam puisi

PENDAHULUAN

Membuat definisi tentang puisi sebenarnya merupakan pekerjaan yang tak gampang. Kalau dulu sering kita dengar bahwa puisi merupakan bentuk terikat, tetapi benarkah sekarang demikian?

Ada beberapa pendapat tentang apakah sesungguhnya puisi itu?

  1. “HB Jassin : Puisi adalah pengucapan dengan perasaan sedangkan prosa pengucapan dengan pikiran.”
  2. “Matthew Arnold : Puisi merupakan bentuk organisasi tertinggi dari kegiatan intelektual manusia.”
  3. “William Henry Hudson : Sastra (juga puisi) merupakan ekspresi dari kehidupan yang memakai bahasa sebagai mediumnya.[1]

Begitu banyak pendapat tentang puisi. Namun sesungguhnya pendapat-pendapat tentang apakah puisi itu tidaklah begitu penting, yang utama sebenarnya mampukah kita memahami puisi itu dan menikmatinya.

Secara etimologis kata puisi berasal dari bahasa Yunani poeima yang berarti membuat, poeisis yang berarti pembuatan, atau poeites yang berarti pembuat, pembangaun, atau pembentuk. Di Inggris puisi itu disebut Poem atau Poetry yang artinya tak jauh berbeda dengan to make atau to create, sehingga pernah lama sekali di Inggris puisi itu disebut maker.

Puisi diartikan sebagai pembangun, pembentuk, atau pembuat, karena memang pada dasarnya dengan mencipta sebuah puisi maka seorang penyair telah membangun, membuat, atau membentuk sebuah dunia baru, secara lahir maupun batin. [2]

Puisi juga diartikan sebagai tulisan (komposisi) yang dirancang untuk menyampaikan pengalaman dengan jelas dan imajinatif, yang ditandai oleh penggunaan bahasa yang padat yang dipilih untuk memperoleh suara, daya yang berpengaruh kuat (sugestif) juga maknanya dengan menggunakan teknik-teknik literature tertentu seperti ukuran yang terstruktur, irama, atau metafora alamiah.[3]

Sastrawan dan seniman adalah makhluk yang tajam perasaannya, yang memiliki pikiran dan wawasan yang luas.[4] Sajak dapat berisi harapan, kegembiraan, kekecewaan, ataupun kesedihan, sesuai dengan getaran jiwa penyair. Dengan demikian, jika penyair melontarkan kritik dalam karyanya, janganlah segera ditanggapi secara negatif, tetapi tanggapilah dengan saksama benar tidaknya kritik itu.

Salah satu cara menikmati puisi adalah dengan membacakannya di depan umum. Pembacaan puisi di depan umum secara indah sudah merupakan tradisi di Indonesia. Perlu diketahui bahwa diadakannya lomba baca puisi bukan hanya untuk menumbuh kembangkan minat masyarakat terhadap seni baca puisi, melainkan lebih dari itu, yakni menumbuhkan kesadaran berbahasa, berbudaya, berbangsa, dan bertanah air.[5]

  1. Lapis Bentuk atau Strukur Puisi :
  2. Bunyi dan irama dalam puisi.

Dalam puisi irama tercapai dengan fariasi secara sistematik pada arus bunyi, sebagai akibat dari pergantian tekanan yang panjang-pendek, kuat-lemah, dan tinggi-rendah. Dalam puisi irama tercapai dengan perulangan secara konsisten dan berfariasi dari belbagai bunyi yang sama.

  1. Diksi atau pemilihan kata dalam puisi.

Diksi berati pemilihan kata yang tepat, padat, dan kaya akan nuansa makna dan suasana sehingga mampu mengembangkan dan mempengaruhi daya imajinasi pembaca. Di sinilah sering terjadi pergulatan dalam diri seorang penyair, bagaimana dia memilih kata-kata yang tepat, baik yang mengandung mana denotatif maupun konotatif.

  1. Baris dalam puisi.

Ciri visual dalam puisi yang membedakan dengan genre sastra yang lain adalah baris. Kalau prosa fiksi secara visual dibentuk dengan paragraf-paragraf, maka puisi dibentuk dengan baris-baris yang kadangkala akan terbentuk lagi menjadi bentukan yang lebih besar : bait. Di samping sebagai ciri visual baris dalam puisi juga berfungsi sebagai upaya untuk menciptakan efek artistik dan untuk membangkitkan makna. Hal ini akan jelas dalam butir tipografi dalam puisi nanti.

  1. Enjambemen dalam puisi.

Pemenggalan secara cermat dan hubungan antar baris inilah yang disebut enjambemen. Ternyata meskipun nampaknya sederhana enjambemen sangat berpengaruh dalam menentukan sebuah puisi.

  1. Bait dalam puisi.

Satuan yang lebih besar dalam baris biasanya disebut bait tetapi sesungguhnya dalam bait yang terpnting adalah kesatuan makna, dan bukan kesatuan baris. Sebab bila kita katakan bahwa bait itu merupakan kesatuan baris, konsekuensinya satu bait itu harus terdiri lebih dari satu baris. Padahal seringkali kita jumpai puisi yang bait-baitnya hanya terdiri atas satu baris saja.

  1. Tipografi dalam puisi.

Lukisan bentuk dalam puisi, termasuk dalam hal pemakaian huruf besar dan tanda baca, disebut tipografi. Tipografi di samping bertujuan untuk menciptakan keindahan visual, juga dimaksudkan sebagai upaya untuk mengintensifkan makna, rasa, dan suasana sebuah puisi. [6]

  1. Lapis Makna dalam Puisi.

Sense adalah sesuatu yang diciptakan atau dilukiskan oleh penyair lewat puisi yang dihadirkannya. Sense masih berupa gambaran umum dari apa yang hendak dikemukakan oleh penyairnya. Seorang pembaca akan menangkap sense ini bila bau membaca secara sepintas atau bila belum sampai pada taraf menguraikan puisi tersebut. Dalam analisis puisi tersebut, sense tersebut akan membuahkan pertanyaan, “apa yang hendak dikemukakan penyair lewat puisi yang di ciptakan itu?”

  1. Subject Matter.

Subject matter adalah pokok pikiran yang dikemukakan penyair lewat puisi yang diciptakannya. Kalau sense tadi disebutkan masih berupa gambaran secara umum dari apa yang akan dikemukakan oleh penyair, maka dalam subject matter gambaran umum itu telah diperinci dalam satuan-satuan pokok pikiran. Sehingga dalam menulis analisis puisi, subject matter akan melahirkan pertanyaan, “pokok pikiran apa yang akan diungkapkan oleh penyair sesuai dengan gambaran umum itu?”

  1. Feeling

Felling adalah sikap penyair terhadappokok pikiran yang ditampilkan. Hal ini sejalan dengan kenyataan bahwa setiap manusia mempunyai sikap dan pandangan tertentu dalam menghadapi setiap pokok persoalan. Penyairpun demikian, dia sudah dapat dipastikan memiliki sikap tertentu pada setiap pokok persoalan yang dia ekspresikan.

Tone adalah sikap penyair terhadap pembaca atau penikmat karya puisi ciptaanya. Bagaimanakah sikap penyair terhadap pembacanya dapat dirasakan dari nada ciptaanya. Apakah penyair itu bersikap menggurui, angkuh, membodohkan, rendah hati, sugestif, persuatif, dan sebagainya terhadap para peminat puisinya jelas akan kelihatan dari warna puisi tersebut.

  1. Total of meaning.

Total of meaning atau totalitas makna adalah keseluruhan makna yang terdapat dalam puisi. Penentuan makna ini didasarkan pada pokok-pokok pikiran yang ditampilkan penyair, sikap penyair terhadap pokok persoalan yang disajikan dalam puisi, serta sikap penyair terhadap penikmat puisinya. Totalitas makna tentu akan berbeda dengan sense karena dalam sense pembaca baru memperoleh gambaran secara umum.

Theme atau tema itu merupakan ide dasar dari suatu puisi yang bertindk sebagai inti dari keseluruhan makna dalam puisi tersebut. Tema hanya dapat ditentukan dengan cara menyimpulkan inti yang terdapat dalam totalitas makna puisi. Sehingga dalam analisis puisi tema ini akan melahirkan pertanyaan, “apakah ide dasar atau inti dari totalitas makna puisi itu?” atau “kesimpulan apa yang diperoleh setelah mengetahui totalitas makna puisi itu?”[7]

  1. Ragam Puisi :
  2. Puisi Epik.

Puisi epik adalah puisi yang di dalamnya mengandung cerita kepahlawanan yang berkaitan dengan legenda,kepercayaan, maupun sejarah.

  1. Puisi naratif

Puisi naratif adalah puisi yang di dalamnya mengandung suatu cerita, dengan pelaku perwatakan, plot, dan latar tertentu yang menjalin suatu cerita. Yang termasuk ke dalam jenis ini adalah balada, dan dalam puisi lama syairpun tergolong jenis puisi ini.

  1. Puisi dramatik

Puisi dramatik adalah puisi yang melukiskan prilaku seseorang, baik lewat gerak, dialog, maupun monolog, sehingga mengundang suatu gambaran kisah tertentu.

  1. Puisi lirik

Puisi lirik adalah puisi yang berisi luapan batin penyairnya dangan segala macam endapan pengalaman, sikap maupun suasana batin yang melingkupinya. Puisi lirik ini kadangkala disebut sebagai bentuk puisi suasana, karena kenyataannya dalam puisi semacam ini seorang penyair nampak lebih kuat dalam mengungkakan suasana batinnya lewat endapan pengalaman tadi.

  1. Puisi epigram

Puisi epigram adalah bentk puisi pendek yang berisi nasihat tentang cara bergaul, sopan santun, ajaran agama, dan sebagainya. Gurindam dalam puisi lama dapat kita golongkan sebagai bentuk puisi epigram.

  1. Puisi didaktis

Puisi didaktis adalah puisi yang secara eksplisit mengungkapkan nilai didaktis atau pendididkan. Dalampuisi berikut ini anak- anak (dalam hal ini pembaca) diajak untuk mempunyai sifat sayang binatang.

  1. Puisi satirik.

Puisi satirik adalah puisi yang berisi kritik atau sindiran terhadap kepincangan atau ketidak beresan yang terjadi dalam masyarakat. Secara umum puisi angkatan 66 cenderung bernafaskan satir, protes terhadap eksistensi orde lama.

  1. Puisi romance/romans.

Puisi romance/romans adalah puisi yang berisi luapan perasaan kepada kekasihnya, tentunya berupa luapan perasaan cinta dan asmara.

  1. Puisi elegi.

Puisi Elegi adalah puisi yang berisiratapan seseorang tentang apa saja. Mungkin karena kepahitan hidup yang dia jalani, mungkin karena kegagalannya dalam menjalani hidup ini, mungkin karena kisah cintanya yang terpaksa berantakan dan sebagainya.

  1. Puisi ode.

Puisi ode adalah puisi yang berisi pujian terhadap seseorang yang berjasa untuk bangsa, tanah air, dan negara, juga pujian terhadap seseorang yang memiliki sikap kepahlawanan.

  1. Puisi himne.

Puisi himne adalah puisi yang berisi pujian terhadap kebesaran tuhan dan ungkapan cinta terhadap bangsa, negara, dan tanah air.[8]

SIMPULAN

Dari uraian yang telah kita bahas di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa puisi diartikan sebagai alat yang digunakan orang untuk mengekspresikan hati dan keadaan diri mereka dengan tulisan (komposisi) yang dirancang untuk menyampaikan pengalaman dengan jelas dan imajinatif, yang ditandai oleh penggunaan bahasa yang padat yang dipilih untuk memperoleh suara, daya yang berpengaruh kuat (sugestif) juga maknanya dengan menggunakan teknik-teknik literature tertentu seperti ukuran yang terstruktur, irama, atau metafora alamiah yang dapat menumbuhkan kesadaran berbahasa, berbudaya, berbangsa, dan bertanah air. Dalam mebuat puisi terdapat lapis bentuk atau strukurnya yang meliputi bunyi dan irama, diksi atau pemilihan kata, baris, enjambemen, bait, dan tipografi dalam puisi. Selain itu dalam puisi juga harus mempunyai lapis makna yang meliputi sense, subject matter, feeling, tone, total of meaning, dan theme. Dan di dalam puisi terdapat pengelompokan atau terdapat banyak ragam yang mempunyai ciri-ciri tersendiri, dan dari ragam puisi tersebut adalah puisi epik, naratif, dramatik, lirik, epigram, dikdatis, satiric, romance/romans, elegi, ode, dan himne.

DAFTAR RUJUKAN

Jassin, HB. 1994. Koran dan Sastra Indonesia, Jakarta. PUSPA SWARA.

Kartanegara, Mulyadi. 2005. Seni Mengukir Kata. Bandung. MLC.

Tengsoe Tjahjono, Liberatus. 1988. Sastra Indonesia Pengantar Teori dan Apresiasi. Flores NTT. Nusa Indah.

Resensi Buku

Ide-ide Kreatif Mendidik Anak bagi Orangtua Sibuk

Oleh EVITA NURFIRDAUS

 PGMI 1D IAIN Tulungagung

214

Resensi Buku :

  • Identitas Buku.

Judul: Ide-ide Kreatif Mendidik Anak bagi OrangtuaSibuk.

Pengarang: Dr. Supardi, MM & Aqila Smart.

Editor: Rose Kusumaningratri.

Proofreader: Nur Hidayah.

Desain cover: TriAT.

Desain Isi: Ahmady Averouz.

Penerbit: KATAHATI.

Kota terbit: Yogyakarta.

Tahun terbit: Cetakan pertama 2010.

Tebal halaman: 130.

Ukuran: 13,5 x 20 cm

ISBN: 978-979-25-4685-9

  • Tema.

Buku yang membahas tentang ide-ide kreatif mendidik anak bagi orang tua sibuk.

  • Pembukaan.

Banyak orangtua supersibuk mengeluh tidak dapat menyeimbangkan peran antara bekerja di luar dengan mengurus anak. Aktivitas pekerjaan menuntut para orangtua menghabiskan hamper sebagian waktu kesehariannya. Akibatnya, pengawasan dan perhatian pada anak menjadi berkurang.

Di dalam buku ini akan dijelaskan mengenai ide-ide kreatif mendidik anak bagi orang tua sibuk dan akan memberikan tips-tips menyiasati keterbatasan waktu Anda dengan si buah hati. Bagaimana dengan waktu yang serba terbatas tersebut menghasilkan sesuatu yang maksimal.

  • Isi.

Di dalam buku ini penulis tidak mengatakan kepada Anda untuk meninggalkan pekerjaan Anda sebagai wanita karier dan luangkan semua waktu untuk anak Anda. Hal yang perlu Anda lakukan adalah mengubah sdtrategi dalam mendidikan anak. Buku ini dapat menjadi panduan bagi Anda untuk mencapai tujuan yang sangat membanggakan yaitu memiliki anak-anak yang berprestasi dan berkepribadian baik. Di dalam buku ini, terbagi menjadi 7 bab pembahasan.

Bab 1 membahas tentang “Multiple Intelligences, Kunci Anak Berprestasi”. Setiap anak terlahir cerdas, tinggal bagaimana orang tua mengembangkan jenis kecerdasan yang dimiliki oleh anaknya. Seharusnya, setiap orangtua memahami bahwa tingkat kecerdasan setiap nak berbeda. Cermatilah dan lakukan pendekatan dengan tepat agar tidak salah dalam menggolongkan kecerdasan anak.

Kecerdasan dapat dipahami dengan kemampuan seseorang untuk melakukan sesuatu. Kecerdasan tidak hanya meliputi angka yang diperoleh dalam rapor saja. Kecerdasan secara garis besar dibagi menjadi tiga macam, yaitu pertama kecerdasan spiritual dilihat dari ketaatan anak terhadap agamanya. Kedua kecerdasan emosional dilihat dari pengendalian diri, semangat, dan ketekunan serta kemampuan memotivasi diri. Sementara itu yang ketiga adalah kecerdasan intelektual dilihat dari kemampuan otak untuk mengolah dan berpikir kognitif.

Bab 2 membahas tentang “Membentuk Pribadi Super pada Anak”. Kesibukan selalu menjadi penghalang bagi kebanyakan orangtua untuk mempunyai anak dengan kepribadian super. Tidak jarang di antara mereka menyerahkan sepenuhnya kepada pengasuh anak atau sekolah. Padahal, tugas mendidik anak tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada orang lain. Anda sebagai orangtua harus tetap campur tangan dalam mendidik anak agar nantinya tidak ada penyesalan.

Seorang ayah atau ibu dikatakan berhasil dalam mendidik anak jika ia tidak hanya mempunyai kedekatan secara fisik dengan sanga anak, tetapi juga kedekatan emosional. Justru kedekatan emosional lebih utama dibandingkan dengan kedekatan fisik. Dengan kedekatan emosional, Anda akan lebih mudah mengarahkan dan mendidik anak Anda. Bahkan, kedekatan emosional adalah sebuah investasi yang sangat berharga.

Hal yang perlu Anda perhatikan untuk menumbuhkan kedekatan emosional adalah ketika mendengarkan anak Anda bercerita atau mengungkapkan perasaannya, pastikan bahwa Anda tidak melakukan apapun. Tatap matanya dan dengarkan dengan penuh perhatian. Jika ada telepon dan itu bisa ditunda, cobalah untuk tidak menanggapinya terlebih dahulu jika memang Anda memandang anak lebih penting. Dalam hati terdalam seorang anak, ia ingin dinomersatukan oleh kedua orangtuanya.

Bab 3 membahas tentang “Kekuatan Bakat dan Cita-cita Anak”. Orangtua manapun pasti mempunyai harapan terhadap anaknya kelak. Oleh karena itu, penulis yakin pola asuh yang mereka terapkan tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi untuk jangka pajang. Untuk menggapai impian jangka panjang sang anak, dibutuhkan sebuah pola asuh yang terencana dan terfokus serta konsisten.

Sebagai orangtua, penulis yakin Anda sangat mengharapkan cita-cita anak Anda kelak dapat menguntungkan bagi hidupnya dan menghasilkan input secara materi untuk menopang kehidupannya. Oleh karena itu, alangkah bijaknya jika Anda memerhatikan jenis profesi yang diminati atau mempunyai daya jual.

Dalam membangun sebuah harapan atau cita-cita, cobalah untuk meramalkan kira-kira pada tahun sekian, saat anak Anda sudah siap memasuki dunia kerja, jenis profesi apa yang paling banyak dibutuhkan ? Akuntan ? Sekretaris ? Namun, jika Anda tidak menginginkan anak Anda memasuki dunia kerja sebagai karyawan, persiapkanlah anak Anda sejak dini untuk menjadi seorang wirausaha, PNS, atau yang lain.

Bab 4 membahas tentang “Anak Cerdas dengan Gaya Belajar Maksimal”. Sebenarnya, gaya belajar terbentuk karena beberapa faktor, antara lain faktor bawaan dan pola asuh (kebiasaan). Mengapa pola asuh dapat dapat menentukan kemunculan gaya belajar anak? Sudah menjadi rahasia umum bahwa saat anak berusia tertentu, setiap orangtua akan memberikan stimulasi-stimulasi untuk tumbuh kembang buah hatinya. Nah, bentuk stimulasi yang lebih dominan inilah yang dapat memunculkan gaya belajar anak. Misalnya anak yang sejak kecil terbiasa dibacakan dongeng bisa jadi gaya belajarnya akan menjadi gaya belajar auditori.

Lantas, gaya belajar seperti apa yang paling baik? Hal yang penting untuk Anda ingat adalah bahwa tidak ada gaya belajar yang paling benar dan paling baik. Semua gaya belajar akan sesuai jika pembelajar mengenali gaya belajar yang paling cocok untuk dirinya. Oleh karena itu, agar proses belajar anakefektif, Anda harus mengenali gaya belajar anak Anda, apalagi Anda orangtua sibuk, pasti menginginkan segala sesuatunya berjalan efektif, termasuk masalah anak.

Anda dapat mendeteksi model pembelajaran yang paling tepat bagi mereka dengan cara melihat gaya dari setiap anak dalam beraktivitas, karena dalam beraktivitas adalah cerminan dari gaya belajar mereka. Pada dasarnya terdapat lima gaya belajar yang dimiliki seorang anak, yaitu visual (penglihatan), auditori (pendengaran), kinestetik (gerakan), olfactory (penciuman), dan gustatory (pengecapan). Namun dalam bab ini, penulis hanya akan menulis 3 gaya belajar, yaitu visual, auditori, dan kinestetik.

Gaya belajar visual, anak dengan gaya belajar ini lebih mudah menangkap pelajaran lewat materi bergambar, selain itu ia memiliki kepekaan yang kuat terhadap warna, dan juga memiliki pemahaman yang cukup terhadap masalah artistik. Gaya belajar auditori, anak dengan gaya belajar ini tidak membutuhkan kontak mata dengan si pengajar dan sangat mengandalkan indra pendengaran untuk dapat memahami dan mengingatnya. Gaya belajar kinestetik, anak dengan gaya belajar ini sangat suka bergerak dan cara mereka belajar memang membutuhkan unsur gerak fisik, mereka akan tersiksa jika dipaksa duduk diam saat belajar.

Bab 5 membahas tentang “Metode Belajar Sukses”. Otak adalah organ yang dianggap sebagai pemimpin tubuh, dia adalah system yang sangat kompleks. Otak manusia memiliki kapasitas penyimpanan informasi yang tidak terbatas. Setiap manusia memiliki potensi menajadi genius. Hanya saja sebagian orang belum memaksimalkan potensi otak yang luar biasa. Cara mendongkrak kemampuan otak kita yaitu dengan manajemen otak (brain management), manajemen otak  merupakan kegiatan kegiatan memahami dan meningkatkan kemampuan otak agar selalu dapat memperbaharui potensi dan kapasitasnya sendiri.

Otak terbagi menjadi dua belahan, yaitu belahan kanan dan kiri. Masing-masing belahan memiliki fungsi dan karakteristik tersendiri. Otak kiri lebih banyak berperan pada hal-hal yang berhubungan dengan aktivitas berbahasa, misalnya menulis, membaca, berbicara, dan mendengarkan. Otak kiri memiliki sifat memori jangka pendek. Otak kanan bekerja saat Anda menikmati pemandangan, lukisan, dan musik. Begitu juga dengan perasaan senang, sedih, marah, atau terharu. Otak kanan memiliki sifat memori jangka panjang.

Kesulitan dalam belajar biasanya disebabkan penggunaan teknik belajar yang kurang tepat. Banyak anak merasa mencatat adalah kegiatan yang sangat tidak menyenangkan karena mencatat semata-mata merupakan kegiatan pasif yang dilakukan oleh otak kiri. Mulai sekarang, ubah cara belajar anak menjadi lebih menyenangkan dengan melibatkan  kerja otak kanan. Dengan demikian, Anda tidak perlu naik pitam hanya untuk membuat anak mau belajar. Kegiatan belajar anak tetap lancer meski Anda disibukkan dengan pekerjaan Anda karena waktu belajar adalah waktu bersenang-senang.

Bab 6 membahas tentang “Brain Food”. Pada usia 0-3 tahun perkembangan otak anak sangat pesat, sering disebut dengan periode emas. Perkembangan kecerdasan anak merupakan fondasi dasar yang penting untuk tumbuh kembang dan masa depannya. Untuk mendukung perkembangan otaknya, dibutuhkan nutrisi yang tepat dan seimbang. Berbagai nutrisi itu terdapat pada berbagai macam komposisi karbohidrat, protein nabati dan hewani, lemak, vitamin, mineral, serta nutrisi lain seperti DHA, kolin, dan prebiotik (fos&GOS), serta mikronutrien.

Memberikan nutrisi juga harus disesuaikan dengan jadwal makan untuk mengajarkan anak agar disiplin. Dengan begitu asupan nutrisi dapat diserap sepenuhnya oleh tubuh si kecil. Meski disiplin tidak berarti harus memaksa anak untuk makan, tetapi dengan kebiasaannnya anak dapat menyesuaikan dengan jadwal makannya. Dalam hal ini peran orangtua sangat dibutuhkan untuk membantu memberikan asupan nutrisi yang dibutuhkan anak. Begitu juga ketika anak mengalami masalah dengan berat badannya (obesitas), orangtua juga harus peka terhadap anaknya.

Otak cerdas tidak diperoleh dengan instan, meskipun ada beberapa anak yang terlahir genius. Kebanyakan kecerdasan yang dimiliki para pakar dan ilmuwan terkenal, didapatkan karena proses dan rangsangan meskipun anak Anda terlahir dalam keadaan tidak langsung genius, bukan berarti kemampuan otaknya tidak dapat berprestasi. Anda dapat mengajaknya bersama-sama meningkatkan kecerdasan anak. Jika otak sering dilatih, maka kerja otak juga akan meningkat. Dengan cara meningkatkan kesadaran mental, peningkatan memori, dan peningkatan kewaspadaan, dan yang lebih penting melengkapi nutrisi untuk menunjang kecerdasan otak.

Bab 7 mambahas tentang “Tips-tips Cerdas untuk Orangtua Sibuk”. Menjadi orangtua yang mempunyai peran ganda memang tidak gampang. Hal ini terutama banyak dialami oleh kaum ibu. Mereka harus mengurus segala kepentingan dan pekerjaan rumah tangga selain juga disibukkan dengan rutinitas pekerjaan di kantor. Oleh karena itu, dibutuhkan manajemen waktu yang bagus dan rapi agar semuanya dapat teratasi. Tanpa manajemen waktu yang baik, Anda akan dibuat stres karenanya.

Agar Anda tidak dibuat stress oleh kesibukan Anda sebagai orangtua atau lebih khususnya ibu, berikut tips-tipsnya, yaitu tetapkan rutinitas di pagi hari; ajari anak bekerja; berkomunikasilah; hindari sifat over perfectionist; mulailah dari hal yang besar; bersikaplah tenang dan santai dengan segala kesibukan Anda. Tips agar anak suka belajar, yaitu dengan menciptakan suasana atau ruang belajar yang menyenangkan; mendorong anak belajar lebih penting daripada menuntut anak untuk belajar; kenali tipe dominan cara belajar anak; belajar dengan jeda waktu lebih baik daripada system kebut semalam.

Tips agar anak bisa menjaga diri, yaitu dengan cara kuatkan ilmu spiritual anak; ikutkan anak pada ekstra bela diri; ajarkan anak untuk memilih pergaulan yang sehat; dan batasi pergaulan anak agar tidak terlalu bebas. Tips membentuk anak bertanggung jawab, yaitu dengan cara beri anak kepercayaan untuk menjalankan tugasnya sesuai dengan kemampuan; berikan anak pekerjaan sesuai dengan kemampuan, kondisi, dan suasana hatinya; andalkan anak dalam menjalankan tanggung jawabnya, biarkan anak menyelesaikan masalahnya dengan caranya sendiri; jangan terjebakuntuk menyelesaikan tugas-tugas anak; dan berikan latihan pada anak untuk mengelola keuangannya sendiri.

  • Kelebihan dan kekurangan buku.

Kelebihan Buku :

  1. Melalui buku ini, penulis menginformasikan tentang hal yang menarik dengan ide-ide kreatif dan tips-tips yang sangat membantu bagi orangtua yang sibuk.
  2. Melalui buku ini, penulis menyajikan banyak cara untuk menjadi orangtua yang baik agar bisa menyeimbangkan peran antara bekerja di luar dengan mengurus anak.
  3. Melalui buku ini kita bisa melihat bagaimana cara yang sukses dalam pekerjaan sekaligus sukses dalam mendidik anak.
  4. Bahasa yang digunakan dalam buku ini mudah dipahami dan tidak bertele-tele.

Kekurangan Buku :

  1. Penampilan pada bagian cover yang menurut saya kurang pantas untuk ditampilkan karena ada sedikit unsur pornografinya.
  2. Ada penulisan kata yang masih salah, seperti kata “Jogjakarta” yang seharusnya Yogyakarta.

Share from : https://indahnyaberpuisiitu.wordpress.com/

menyimpan rindu untuknya

cinta adalah satu kata yang penuh makna..
sungguh sulit untuk dapat di jelaskan dengan kata-kata..
cinta, kadang membuat bahagia..
kadang juga membuat hati merana…
tapi itu lah indahnya cinta..

cinta adalah dimana aku dan kamu bisa saling percaya..
walaupun jarak memisahkan kita..
tak menjadi penghalang mengobarnya cinta di jiwa..
selalu ada waktu untuk memikirkanmu ..
dan selalu tersimpan rindu di benakku..

tak mengapa harus berbulan-bulan menanggung rindu
yang terpenting aku akan selalu menunggumu..
entah kenapa rasa ini begitu pilu
ketika kau ingin pergi meninggalkanku..
bukan untuk selamanya..
hanya untuk sementara..

ku harap engkau di sana masih tetap satu rasa
ingatlah di sini ada aku yang selalu menantimu
yang slalu mengharap kehadiran di setiap hariku

seberapapun rasa sakit yang ku rasa semua sirna oleh senyummu
indah, memang indah ..
sungguh suatu karunia Tuhan yang tak ternilai harganya..
bisa merasakan cinta yang menggelora di dalam dada ..
yang akan ku jaga hingga akhir hayat yang akan menyapa..

Pantun Seloka

#1 air keruh telaga keruh
air kunyit pencuci kaki
adik jauh abang pun jauh
tidur semenit di masuk mimpi

#2 air kunyit pencuci kaki
tambahlah wewangi parfum melati
tidur semenit di masuk mimpi
sebab menanggung rindu di hati

#3 tambahlah wewangi parfum melati
di petiknya dikala pagi
sebab menanggung rindu di hati
kapankah adik bisa berjumpa lagi

#4 di petiknya dikala pagi
di sambut sinar mentari yang silau
kapankah adik bisa berjumpa lagi
hati ini rasanya sudah galau

#5 di sambut sinar mentari yang silau
bolehlah mampir di pinggir kali
hati ini rasanya sudah galau
menunggu abang yang tak kunjung kembali

#6 bolehlah mampir di pinggir kali
sambil berteduh di pohon randu
menunggu abang yang tak kunjung kembali
sembari mengingat wajahnya yang ku rindu

#7 sambil berteduh di pohon randu
tak mengapa sambil memejamkan mata
sembari mengingat wajahnya yang ku rindu
karena rasa rindu bumbu cinta

#8 tak mengapa sambil memejamkan mata
mencium bunga mawar yang merekah
karena rasa rindu bumbu cinta
sudah biasa hati galau dan gelisah

#9 mencium bunga mawar yang merekah
mawar di dapat dari ruang tamu
sudah biasa hati galau dan gelisah
karenanya tak kan mengubah cintaku padamu

#10 mawar di dapat dari ruang tamu
setangkainya berharga dua ribu
karenanya tak kan mengubah cintaku padamu
selamanya aku akan LOVE U